Selasa, 22 September 2009

Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya

Masa yang paling indah adalah masa remaja.

Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa रेमजा

Remaja

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.

Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.

Permasalahan Fisik dan Kesehatan

Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).

Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang

Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.

  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama

Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.

Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.

Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.

Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).

Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.

Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.

Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.

Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.

Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.

Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

Sabtu, 25 April 2009

Menjadi Remaja yang Sukses

Dikutip dari : Harian Bali Post, 07 Juli 2003

Kamis siang lalu, bersama dengan Bapak Merta Ada, saya baru saja menyelesaikan pelatihan Meditasi Kesehatan untuk remaja, di daerah Bogor, Jawa Barat. Tercatat 32 remaja ikut serta dalam pelatihan. Mereka datang dari berbagai tempat; Jakarta, Bogor, Bandung, Solo, dan Denpasar. Sebuah program uji coba yang ternyata mendapat sambutan menggembirakan dari berbagai pihak, terutama orangtua mereka.

Hasilnya, luar biasa. Secara jujur harus diakui bahwa meditasi akhirnya menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan bagi para remaja. Pada awalnya, mereka merasa tidak senang dengan kegiatan yang hanya dengan duduk berdiam diri dan mengamati napas. Bisa dimaklumi, secara umum, para remaja tersebut belum pernah melakukan meditasi. Mereka ikut karena anjuran orangtua, mungkin juga dengan sedikit paksaan, karena para orangtuanya telah mengetahui manfaatnya.

Pada hari keempat, mereka bisa bertahan dan mulai merasakan bahwa meditasi menyenangkan. Meditasi bukan lagi menjadi kegiatan yang menakutkan, membuat mereka tersiksa. Mereka dapat melakukan dengan baik. Bahkan dalam sebuah tugas untuk menulis urutan latihan, sebagian besar peserta dapat menulis dengan rinci. Ini dapat dipergunakan sebagai tolok ukur bahwa mereka telah mengetahui dan memahami meditasi.

Untuk remaja, meditasi diarahkan untuk melatih pikiran yang baik sehingga dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dalam menghadapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Kehidupan remaja bagaikan berada di pinggir sebuah hutan belantara. Segala sesuatu bisa terjadi ketika seseorang memasuki hutan belantara. Mereka bisa menjadi penjahat, yang melakukan tindak kejahatan kepada semua orang yang lewat. Mereka juga bisa menjadi pertapa, orang yang arif bijaksana, bermanfaat bagi orang lain.

Dengan melakukan meditasi secara rutin, sekitar 20 hingga 30 menit setiap harinya dan ditambah dengan pengertian baik lainnya; diharapkan mereka akan menjadi remaja yang sukses dalam segala bidang. Meditasi akan meningkatkan pikiran baiknya. Pikiran merupakan pelopor dari perbuatan. Orang yang berpikiran baik, tentu akan melakukan perbuatan baik dalam kehidupan ini.

Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan setiap hari --baik lewat pikiran, ucapan, muapun badan jasmani-- akan menimbulkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Mereka diharapkan memiliki kebiasaan untuk mengutamakan yang penting, bertanggung jawab pada diri sendiri, tidak hanya mementingkan diri sendiri, dan masih banyak yang lainnya. Kebiasaan baik ini diharapkan akan menimbulkan karakter yang baik; yang pada akhirnya dikatakan akan mengundang kebaikan lainnya.

Para remaja juga harus mempertimbangkan harapan yang ingin mereka raih dalam kehidupan ini. Jalan yang akan ditempuh masih panjang. Banyak harapan yang diinginkan. Banyak kondisi yang tidak diharapkan muncul dalam kehidupan ini. Mereka berada di persimpangan jalan, dengan sekian banyak cabang yang harus dipilih. Selama lima hari, mereka telah mendapatkan semuanya. Dari etika yang kadang-kadang terlupakan di rumah dan sekolah hingga menghitung karier dan cita-cita, dari kisah-kisah remaja yang ada hingga dongeng yang memberikan inspirasi untuk selalu berbuat baik.

Kamis lalu, mereka kembali ke rumah masing-masing. Mereka mengisi liburan sekolah ini dengan sejumlah kegiatan sambil menanti datangnya hari pertama sekolah, dua pekan mendatang. Pesan telah disampaikan. Latihan telah dilakukan. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu untuk berlatih dan terus berlatih demi manfaat yang akan mereka peroleh.

Dalam jawaban dari daftar pertanyaan yang kami berikan, mereka mengakui bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat. Semoga manfaat tersebut dapat terus peroleh dalam kehidupan ini sehingga mereka semua menjadi remaja yang sukses. Yang jelas, manfaat tersebut hanya dapat terwujud dengan berlatih, karena itu para remaja agar tidak lupa untuk terus berlatih.

Kiat Menjadi Remaja Produktif

Kiat Menjadi Remaja Produktif
Setiap waktu, hari, menit yang berlalu menjadi tuntutan terhadap diri kita untuk menyempurnakan persiapan, dengan menempa diri dengan banyaknya tugas dan pengalaman. Ujian sudah ada di depan kita, baik UMPTN maupun ulangan umum. Kita berharap dengan segala daya upaya yang kita lakukan itu, Allah SWT berkenan memilih kita bergabung dengan kemuliaan yang lebih besar lagi. Berikut ini adalah karakter menjadi remaja yang produktif agar bisa sukses dalam setiap ujian yang ada di depan kita :
1. Bangun… Bangun…
Bukan hanya kita lakukan waktu kita bangun dari tidur, melainkan mem-‘bangun’-kan orientasi diri kita agar jadi sehat juga. Karena aktifitas tanpa orientasi, arah dan tujuan yang jelas maka hasilnya pun tidak bernilai untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya : kamu pengen masuk Fakultas Kedokteran setelah lulus SMU, so kamu tetapkan tujuan itu baik-baik.
2. Berwawasan dan Belajar
Seorang remaja yang produktif dan mampu tampil produktif, harus tahu segala kejadian terhadap dirinya sebagai bekal seorang pembelajar yang berwawasan luas. Jadi meskipun kamu pengen masuk Kedokteran, jangan belajar Biologi terus, donk !!! Pelajari hal yang lainnya, misalkan perkembangan Bioteknologi ataupun pelajaran lain yang berkaitan dengan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
3. Mengambil Inisiatif
Seringkali kita merasa ‘bete’ dan ‘bosan’ dengan tugas yang diberikan guru. Boleh aja kok kamu mengambil alternatif kegiatan yang lain. Misalkan kamu refreshing ke tempat pariwisata, cari tempat yang nyaman untuk belajar dan lainnya tergantung kemampuan kamu. Karena dengan berinisiatif kamu bisa melatih diri untuk mengambil tanggung jawab dan pada titik tertentu bisa membuat rasa pede kita maksimal. Coba, dech !!!
4. Menghargai usaha-usaha perbaikan
Produktif, tidak selalu berarti melakukan semua sendiri. Dalam konteks ini, kita bisa berinisiatif membentuk kelompok belajar untuk memecahkan dan saling membantu jika ada kesulitan belajar. Sehingga dengan hal itu kamu bisa saling menguatkan satu sama lain untuk capai kesuksesan.
5. Berpartisipasi pada prestasi
Seorang remaja yang produktif selalu haus akan prestasi. Ia mengulang karakter mulia Adullah bin Zubair r.a. yang mengatakan: “Istirahatku adalah kematianku”. Ia lahir seiring dengan berbagai problema di hadapannya. Dan kematian yang datang barulah menjadi akhir dari segala aktifitasnya.
6. Menjadi yang terbaik
Dengan komitmen menjadi yang terbaik, baik untuk hari ini, esok dan seterusnya, Ia mampu menghimpun bekal hari ini untuk esok hari, ia akan mampu mengenali dirinya.Insya Allah.
Remaja, suatu masa yang dipenuhi hal-hal yang positif untuk kita kerjakan. Tetaplah berbuat positif, sebab masa muda proses yang tepat untuk melakukan sesuatu yang kelak kita syukuri karena bisa merubah diri kita hari ini untuk persiapan di masa depan nanti. So, jadilah Insan Muda yang produktif. Okey ???
[Disarikan dari Kader Produktif, Al Izzah]

Menjadi Remaja Cool 'n Smart

Kalahkan Diri Sendiri untuk Menjadi Remaja Cool ‘n Smart 
Kesuksesan bisa dibedakan atas sukses di dalam diri dan sukses di luar diri. Seseorang dikatakan mencapai sukses di dalam diri bila ia mampu mengontrol dirinya sendiri sedemikian rupa ke arah yang positif. Sedangkan seseorang dikatakan sukses di luar diri bila ia mampu meraih cita-citanya, seperti masuk perguruan tinggi ternama, menjadi menjadi atlet terkenal, punya mobil terbaru, dsb.
Namun demikian, untuk meraih sukses di luar diri, seperti sukses dalam bermacam kegiatan, sukses di sekolah, dan sukses dalam bergaul dengan orang lain, pertama-tama kamu mesti meraih sukses di dalam diri dengan mengontrol pikiranmu.
Mengalahkan diri sendiri adalah fondasi bagi segala jenis sukses dan jurus paling ampuh untuk menjadi remaja cool ‘n smart. Jurus ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

•Tekan tombol turbo hidupmu. Dimana sih tombol turbo kehidupan itu? Di dalam pikiranmu. Di samping tombol tadi, ada sebuah pesan berbunyi: TEKAN JIKA KAMU INGIN MEMPERBAIKI HIDUPMU. Sedikit sekali orang yang telah menekan tombol ini, tapi nggak sulit untuk mengenali siapa-siapa saja yang sudah menekannya.
Apa yang menjadikan mereka berbeda? Orang-orang yang telah menekan tombol turbo kehidupannya selalu beraksi untuk meningkatkan kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa mereka bisa mengambil tindakan untuk memperbaiki segala segi kehidupan mereka. Sebaliknya, mereka yang belum menekan tombol turbo ini, ya begitulah…, mereka selalu mencari-cari alasan. Mereka memandang hal-hal yang nggak mereka sukai dalam hidup dan berkata, “Nggak ada lagi yang bisa kulakukan.”
Menekan tombol turbo kehidupan ternyata gampang banget, sama gampangnya dengan menekan tombol turbo pada joystick. Siapa saja bisa melakukannya. Yang perlu kamu lakukan tinggal meyakini sepenuhnya: Aku sadar bahwa kesuksesanku nggak bergantung pada orang lain, bukan pada ortuku, bukan sohib-sohibku, sekolahku, pemerintah, nggak seorangpun. Orang lain memang bisa membantu, tapi pada akhirnya, sukses hanya bisa kuraih kalau aku mau bertanggungjawab terhadap apa saja yang bisa kukontrol, seperti cara berpikirku, cara bicaraku, seberapa keras aku mau berusaha, caraku memperlakukan orang lain, singkatnya semua tindakanku. Aku nggak bakal dapat apa-apa hanya dengan mengeluh. Sebaliknya, aku akan selalu fokus pada tindakan-tindakan yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hidupku.
•Mulailah dari hatimu. Kamu mungkin pernah tergoda untuk memburu cita-cita di luar diri yang tampak menjanjikan, seperti kuliah di perguruan tinggi ternama atau jadi orang populer di sekolah. Tapi yang benar, kamu bakal memperoleh kebahagiaan sejati hanya kalau kamu mulai dari apa yang ada di dalam dirimu. Gampangnya, banggalah menjadi dirimu sendiri.
Begitu kamu sadar bahwa kamu berbeda dari lingkunganmu, kamu nggak perlu berubah agar bisa diterima lingkunganmu. Kamu nggak perlu sekeren, seatletis, atau selucu orang lain. Kamu cuma harus menjadi dirimu sendiri. Daripada berusaha keras menjadi keren sesuai dengan kriteria orang lain, kamu bisa mengambil pilihan yang lebih baik: Lihatlah ke dalam lubuk hatimu dan putuskan bahwa kamu keren, entah apa anggapan orang lain tentangmu. Banggalah karena kamu berbeda, dan jadikan perbedaan itu suatu manfaat bagimu dan bukan malah menjadi musuhmu.
Kalau kamu bisa menerima dirimu sendiri, kamu bakal bisa menjalin hidup dengan lebih percaya diri dan siap mengontrol bagian hatimu yang lain, yaitu keyakinan diri.  Keyakinan diri lebih penting ketimbang apapun.
Kok bisa? Coba pikirkan dampak dari keyakinan dirimu. Bagaimana kalau kamu yakin bahwa kamu bodoh dan nggak bakal bisa meraih sukses? Kira-kira kamu bakal mau bekerja keras di sekolah nggak? Dengan keyakinan seperti itu, kamu sudah nggak punya alasan untuk mencoba. Tanpa fondasi keyakinan yang positif, sukses mustahil diraih, sama mustahilnya dengan mencoba berjalan di pasir isap.
Tapi, kalau kamu yakin pada dirimu sendiri, yakin kamu bakal sukses, kamu sudah punya fondasi yang kamu butuhkan untuk mewujudkannya. Kamu sudah bisa melangkah dan berusaha keras untuk menggapai sukses tadi.
Coba lihat hidup kamu. Siapa yang mengontrol anggapanmu tentang dirimu sendiri? Kamu? Atau orang lain di sekitarmu?
Kalau yang mengontrol kamu bukan dirimu sendiri, sekaranglah saatnya untuk membebaskan diri dari rantai yang membelenggumu dan memilih keyakinanmu sendiri. Sekaranglah saatnya untuk menatap dunia dan menyatakan dengan lantang: ”Mulai sekarang, kalian nggak akan bisa mengontrol keyakinanku. Apapun yang kalian katakan atau coba untuk mempengaruhiku, aku akan selalu kukuh pada keyakinan positifku pada diriku sendiri.”
•Pilih jalanmu sendiri. Aku dan kamu sama-sama menempuh perjalanan, sebuah perjalanan menuju sukses. Walau perjalanan kita nggak membahayakan secara fisik, perjalanan kita juga nggak gampang, semua hal yang berharga dalam hidup memang nggak mudah diraih. Jadi, ayo kita berhenti sejenak untuk berpikir masak-masak tentang arah tujuan kita. Kamu nggak harus membiarkan orang lain mengatur akhir hidupmu. Kamu bisa memilih arahmu sendiri. Kamu bisa jadi navigator dirimu sendiri di tengah samudera kehidupan.
Liburan akhir minggu ini aja aku nggak tahu harus ngapain, gimana aku tahu cara memilih arah hidupku?
Meski kamu belum tahu apa yang kamu inginkan di luar diri kamu,seperti perguruan tinggi mana yang pingin kamu masuki, dengan siapa kamu pingin bergaul, atau mobil apa yang pingin kamu naiki, kamu selalu bisa memutuskan di dalam nuranimu akan jadi orang seperti apa dirimu kelak. Kamu akan jadi orang yang malas atau rajin, gembira atau bete-an, pede atau gelisah, dermawan atau egois, dst.
Jadi, kalau kamu belum tahu cita-cita di luar dirimu, nggak perlu cemas. Cuma sedikit orang yang sudah tahu dengan mantap tentang cita-cita atau arah di luar dirinya. Pokoknya, pastikan bahwa kamu mengambil arah yang tepat di bagian terpenting, yaitu di dalam dirimu. Kalau kamu merawat dunia di dalam diri kamu, tingkah laku kamu, keyakinan kamu, dan kualitas karaktermu, kamu pasti bakal baik-baik saja di luar dirimu.
Tampaknya memang susah-susah gampang. Tapi, nggak ada salahnya untuk dicoba. Mulailah dari sekarang, nggak ada kata terlambat untuk memulai.

Kamis, 23 April 2009

Beberapa Dosa Kaum Remaja

Remaja yang katanya sedang mencari jati diri tak bisa dipungkiri pasti tak jauh dari yang namanya “coba-coba”. Entah itu dosa atau tidak, yang penting mereka diterima dalam pergaulan. Begitulah kira-kira sekilas gambaran tentang para Remaja kita. Berikut ini beberapa dosa yang kerap dilakukan remaja.
PACARAN
Saat diri sendiri merasa nggak dipahami orang lain, yang namanya lawan jenis selalu menjadi tempat asyik untuk curhat. Jadilah sepasang lain jenis berpacaran.
Bukannya asyik, pacaran malah full ancaman. Alloh Ta’ala memerintahkan menahan pandangan dari lawan jenis, orang pacaran malah saling pandang. Jadinya nggak patuh sama Alloh, kan? Belum masalah sentuh-menyentuh, yang kata Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam lebih baik kepala ditusuk paku besi daripada menyentuh wanita non mahram. 
PORNOGRAFI
Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat pada masa remaja membuat banyak remaja (terutama laki-laki) terperosok ke maksiat satu ini. Banyak media yang memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, sampai VCD. Bahkan majalah Playboy yang udah masyhur kepornoannya pun udah masuk ke Indonesia setelah majalah porno lainnya eksis di negeri ini. 
ONANI MASTURBASI
Maksiat yang satu ini juga terkenal banget dilakukan oleh para remaja. Sebabnya rata-rata sama, ingin tahu dan besarnya nafsu seksual pada masa remaja. Menurut penelitian, aktivitas ini lebih banyak dilakukan remaja pria (sekitar 90%), namun ada juga remaja perempuan yang melakukannya (30%). Sebagian orang menganggap melepaskan syahwat dengan onani/ masturbasi merupakan jalan yang lebih selamat daripada berzina. Kadar maksiat mungkin memang lebih rendah dari zina beneran. Tapi bukan berarti onani nggak terlarang. Dalam Islam, melampiaskan nafsu syahwat hanya diperkenankan dilakukan terhadap istri atau suami. 
MUSIK
Satu hal yang biasanya remaja kurang tahu bahwa hal tersebut juga merupakan maksiat adalah mendengarkan musik. Parahnya, kehidupan remaja saat ini kayaknya nggak bisa lepas dari musik. Konsumen musik terbanyak tetap aja remaja. Buktinya, media cetak remaja, baik yang untuk cewek atau cowok, baik yang majalah atau yang tabloid, semuanya memberikan porsi ruang yang lumayan besar bagi berita musik.
MENCONTEK
Dosa yang ini biasa terjadi di sekolah, terutama saat ulangan atau ujian. Mencontek dilakukan untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hakikatnya, mencontek adalah menipu, baik diri sendiri maupun guru. Hasil yang kamu peroleh mungkin memang seperti yang kamu harapkan. Tapi betulkah demikian kemampuanmu? Ingatlah, pertanggungjawaban nggak cuma didepan guru saja. Di akherat nanti, penipuan yang kamu lakukan tersebut juga harus kamu pertanggungjawabkan. Nah lo!
MEROKOK
Rokok seluruhnya mengandung racun. Bisa jadi ia malah lebih berbahaya daripada khamr. Alloh melarang kita membinasakan diri kita sendiri. Kalo begitu, menghisap rokok juga diharamkan. Rokok juga merupakan pintu untuk merasakan hal-hal haram lainnya. Pecandu rokok bisa-bisa tertarik untuk mencampurkan ganja di rokoknya. Ganja mempunyai efek memabukkan, jadi tentu saja ganja adalah barang haram. 
HAL SIA-SIA
Waktu luang bisa menjadi bumerang. Tentu, kalo kita nggak bisa memanfaatkannya untuk kebaikan. Remaja yang mudah suntuk karena kebelumstabilan emosinya, ditambah beratnya beban pelajaran di sekolah membuat mereka lebih sering memanfaatkan waktu luang untuk bersenang-senang. Masalahnya kebanyakan hal yang senang-senang itu adalah hal yang sia-sia. Contohnya adalah kebiasaan nongkrong, maen game, keluyuran di pusat perbelanjaan, dsb.

Mengapa Remaja Suka Menggunakan Bahasa Gaul?

Mengapa Remaja Suka Menggunakan Bahasa ‘Gaul’? 
Dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesama sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal dengan bahasa ‘gaul’.  Disamping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya.  
Menurut Piaaget (dalam Papalia, 2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional.  Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia.  Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya.  
Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat.  Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks.  Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda.  Mereka menyukai penggunaan metaphor, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka.  Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku.  Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul. 
Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja.  Menurut Erikson (1968), remajamemasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion.  Hal yang dominant terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas.  Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa.  Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa  dan anak-anak. 
Referensi 
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D.  (2004).  Human development (9th edition).  Boston: McGraw Hill Company, Inc. 
Erikson, E.  (1968).  Childhood and society (2nd edition).  New York: W.W. Norton & Company Inc.

Kesehatan Mental Remaja

 Dalam psikologi perkembangan remaja dikenal sedang dalam fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan. Fase perkembangan remaja ini berlangsung cukup lama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 11-19 tahun pada wanita dan 12-20 tahun pada pria. Fase perkebangan remaja ini dikatakan fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan adalah karena dalam fase ini remaja sedang berada di antara dua persimpangan antara dunia anak-anak dan dunia orang-orang dewasa.
     Kesulitan dan persoalan yang muncul pada fase remaja ini bukan hanya muncul pada diri remaja itu sendiri melainkan juga pada orangtua, guru dan masyarakat. Dimana dapat kita lihat seringkali terjadi pertentangan antara remaja dengan orangtua, remaja dengan guru bahkan dikalangan remaja itu sendiri.
     Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara singkat dapat dijelaskan bahwa keberadaan remaja yang ada di antara dua persimpangan fase perkembanganlah (fase interim) yang membuat fase remaja penuh dengan kesukaran dan persoalan. Dapat dipastikan bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan transisi atau peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain seringkali mengalami gejolak dan goncangan yang terkadang dapat berakibat buruk bahkan fatal (menyebabkan kematian).(Syah, 2001)
    Namun, pada dasarnya semua kesukaran dan persoalan yang muncul pada fase perkembangan remaja ini dapat diminimalisir bahkan dihilangkan, jika orangtua, guru dan masyarakat mampu memahami perkembangan jiwa, perkembangan kesehatan mental remaja dan mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.Persoalan paling signifikan yang sering dihadapi remaja sehari-hari sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan lingkungannya adalah hubungan remaja dengan orang yang lebih dewasa, terutama sang ayah, dan perjuangannya secara bertahap untuk bisa membebaskan diri dari dominasi mereka pada level orang-orang dewasa.
    Seringkali orangtua mencampuri urusan-urusan pribadi anaknya yang sudah remaja dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, “Dimana kamu semalam?”, “Dengan siapa kamu pergi?”, “Apa yang kamu tonton?” dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya ditujukan oleh orangtua adalah karena kepedulian orangtua terhadap keberadaan dan keselamatan anak remajanya.  Namun ditelinga dan dipersepsi anak pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti introgasi seorang polisi terhadap seorang criminal yang berhasil ditangkap.
     Menurut pandangan para ahli psikologi keluarga atau orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu memperkenalkan kebutuhan remaja berikut tantangan-tantangannya untuk bisa bebas kemudian membantu dan mensupportnya secara maksimal dan memberikan kesempatan serta sarana-sarana yang mengarah kepada kebebasan. Selain itu remaja juga diberi dorongan untuk memikul tanggung jawab, mengambil keputusan, dan merencanakan masa depannya. Namun, proses pemahaman ini tidak terjadi secara cepat, perlu kesabaran dan ketulusan orangtua di dalam membimbing dan mengarahkan anak remajanya.
     Selanjutnya para pakar psikologi menyarankan strategi yang paling bagus dan cocok dengan remaja adalah strategi menghormati kecenderungannya untuk bebas merdeka tanpa mengabaikan perhatian orangtua kepada mereka. Strategi ini selain dapat menciptakan iklim kepercayaan antara orangtua dan anak, dapat juga mengajarkan adaptasi atau penyesuaian diri yang sehat pada remaja. Hal ini sangat membantu perkembangan, kematangan, dan keseimbangan jiwa remaja. (Mahfuzh, 2001)
     Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi selama masa remaja tidak selalu dapat tertangani secara baik. Pada fase ini di satu sisi remaja masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan, namun di sisi lain dituntut untuk bersikap dewasa oleh lingkungannya. Sejalan dengan perkembangan sosialnya, mereka lebih konformitas pada kelompoknya dan mulai melepaskan diri dari ikatan dan kebergantungan kepada orangtuanya, dan sering menunjukkan sikap menantang otoritas orangtuanya.
     Remaja yang salah penyesuaian dirinya terkadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif.
     Berkaitan dengan pelepasan tangung jawab, dikalangan remaja juga sering dijumpai banyak usaha untuk bunuh diri. di Negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Selandia Baru, masalah bunuh diri dikalangan remaja berada pada tingkat yang memprihatinkan. Sedangkan dinegara berkembang seperti Indonesia, perilaku tidak sehat remaja yang beresiko kecelakaan juga banyak dilakukan remaja, seperti berkendaraan secara ugal-ugalan. Hal lain yang menjadi persoalan penting dikalangan remaja disemua negara adalah, meningkatnya angka delinkuensi. Perilaku tersebut misalnya keterlibatan remaja dalam perkelahian antar sesame, kabur dari rumah, melakukan tindakan kekerasan, dan berbagai pelanggaran hukum, adalah umum dilakukan oleh remaja.
     Kesehatan mental masyarakat pada dasarnya tercermin dari segi-segi kesehatan mental remaja. Makin tinggi angka delikuensi, bunuh diri remaja, penggunaan obat dan ketergantungan pada zat adiktif, berarti kesehatan mental masyarakat makin rendah.Usaha bimbingan kesehatan mental sangat penting dilakukan dikalangan remaja, dalam bentuk program-program khusus, seperti peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental, penyuluhan tentang kehidupan berumah tangga, hidup secara sehat dan pencegahan penggunaan zat-zat adiktif, serta penyuluhan tentang pencegahan terhadap HIV/AIDS, dan sejenisnya.
Program kesehatan mental remaja ini dapat dilakukan melalui institusi-institusi formal remaja, seperti sekolah, dan dapat pula melalui intervensi-intervensi lain seperti program-program kemasyarakatan, atau program-program yang dibuat khusus untuk kelompok remaja.